TUAN GURU BAJANG: KACAMATA AGAMA DAN NEGARA

Oleh: Lalu Helmy (Wartawan Tribunnews)


Matahari mulai meninggi di Jumat pagi kala itu. Bias cahayanya hangat. Arloji di tangan masih menujukkan pukul 08.45 WITA. Jalan masih terlihat lengang. Belum ada aktivitas berarti.

Pada sebuah cafe di pinggir jalan itu, tampak sejumlah orang duduk melingkar. Kopi dan beberapa potong roti terlihat di atas meja.

Tak lama berselang, sebuah mobil hitam terlihat merapat di areal parkir Bonum Cafe Mataram. Tamu yang ditunggu tiba. Wajah teduh nan sejuk itu turun dari kendarannya. Dialah Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,..,” kata TGB sembari berjalan menuju teras cafe.

Satu-persatu bersalaman. Wajah segar terpancar dari cucu Pahlawan Nasional TGKH Zainuddin Abdul Madjid itu.

“Acaranya di dalam?,” tanya TGB.

“Iya Tuan Guru,” jawab seseorang di dekatnya.

TGB masuk, diikuti yang lain.

Tuan Guru Bajang kemudian duduk di kursi kayu dengan lapis berwarna biru. Awak media mengambil posisi dua meter di depannya. Sorot lampu kamera mengarah ke TGB. Tanda bahwa konferensi pers jelang Muktamar NWDI segera dimulai.

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia itu membuka dialog. Mengawali sambutannya, TGB mendoakan agar seluruh yang hadir senantiasa dianugerahi kesehatan.

Sebagai permulaan, TGB memulai dengan menerangjelaskan ihwal kondisi keberagamaan dalam konteks kebangsaan. Menurutnya, agama telah memberikan seperangkat nilai yang lebih dari cukup untuk dijadikan pedoman berbangsa dan bernegara.

Secara implisit, Gubernur NTB dua periode itu hendak menyampaikan bahwa tidak boleh ada keraguan jika keberadaan islam di Indonesia adalah sebab bangsa ini diberkahi. Islam faktor pengokoh dan penguat, menjadi ruh bagi Indonesia. Umat islam harus menyadari posisinya sebagai suatu bangsa.

Hari jumat itu terasa lebih berkah. Setiap untaian kata yang keluar dari TGB jadi semacam suluh dalam kelam. Bernas dan menyejukkan.

Prolog yang disampaikan TGB tak mengawang-awang. Ia menjelaskan secara rigit tentang relasi bangsa dan agama dalam konteks hari ini.
Setelahnya, ia mulai masuk kepada soal muktamar NWDI.

Berdasar sejumlah persoalan yang telah ia ejawantahkan, kegiatan muktamar, kata TGB, merupakan bagian penting dalam konteks peneguhan komitmen.

“NWDI harus terus bekhidmat di tengah umat, agar nilai-nilai agama bisa terus memandu kita,” ujar peraih Bintang Mahaputra Utama itu.

Tema besar yang dibawa NWDI dalam muktamar tersebut yakni “Berkhidmat untuk umat, membangun Indonesia maju”.

“Terima kasih, mungkin itu sekedar bunga rampai perjumpaan, kita perbanyak dialog,” kata ulama sekaligus umara itu.

Dalam konteks hari ini, isu-isu SARA lazim digunakan sebagai alat pemecah belah kerukunan di tengah umat. Pesan apa yang hendak disampaikan Tuan Guru Bajang terkait hal tersebut? Energi apa yang ingin ditularkan NWDI?

Secara mendasar, kata TGB, dirinya dan NWDI menganut manhaj atau konsep dakwah Ahlussunah Waljamaah. Konsep ini mengedepankan kearifan dalam berdakwah, dialog, saling menghormati antar seluruh elemen yang berbeda.

Secara konsisten, TGB mengajak seluruh elemen bangsa yang heterogen untuk menyadari bahwa 1) perbedaan merupakan sunnatullah; 2) perbedaan adalah jalan berfastabiqulkhoirot, memberi kontribusi yang terbaik; 3) jalan untuk saling mengisi.

TGB menyoroti khusus soal narasi atau konten dakwah keagamaan yang tak jarang menimbulkan pertentangan, friksi, hingga konflik di tengah masyarakat.

TGB menganalogikan, “Jika bangsa Indonesia ini ibarat manusia, maka tulang belakangnya adalah persaudaraan antar elemen bangsa”.

Kalau tulang belakang ini kuat, kata TGB maka ia bisa menopang apapun.

Jika isu-isu SARA, atau sentimen keagamaan diarahkan untuk hal-hal yang dapat memancing timbulnya kegaduhan, maka itu sama artinya dengan melemahkan tulang belakang.

Berikutnya, Tuan Guru Bajang menjelaskan ihwal moderasi islam (islam moderat); Islam Wasthiyah. Pemahaman TGB akan konsep Islam yang ramah dan Indonesia teramat matang. Sebagaimana yang sering ia sampaikan, “keindonesian dan keagamaan berada dalam satu tarikan nafas”.

Islam dan Indonesia ini, kata TGB tidak untuk dibenturkan.

“Sikap tasamuh (toleransi), tawaasuth (proporsional) memandang sesuatu dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, kemudian tahabbur itu sikap memandang seluruh gerak ini demi kemajuan bersama, menghadirkan keadaban yang baik, itu cita-cita kita,” ujar Doktor tafsir Qur’an lulusan Al-Azhar itu.

Pandangan Keagamaan dan Kebangsaan Tuan Guru Bajang Menyejukkan

Sebagai tokoh nasional, Tuan Guru Bajang lazim memberikan respons terhadap sejumlah persoalan. Khusunya terkait narasi-narasi membenturkan antara keagamaan dan kebangsaan.

Sebagai contoh, di tengah tingginya tensi politik pada 2018, TGB memberikan pandangan bernas.

Pada tahun tersebut, hubungan antara agama dengan negara tampak tidak harmonis. Hal ini lantaran narasi keagamaan banyak digunakan sebagai alat mencapai kepentingan politik. Tak sedikit yang akhirnya menjadi embrio timbulnya konflik.

Posisi agama dan negara tampak dihadap-hadapkan.

Saat itu, TGB mengimbau kepada siapapun untuk tidak berpolitik dengan mengutip ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an.

“Apa aset kita yang tidak terlihat sebagai bangsa? Aset yang tidak terlihat itu adalah persaudaraan dan persatuan kita sebagai bangsa. Kita ini bersaudara. Apakah bapak-bapak berani mengatakan bahwa anda adalah yang haq, sementara lawan politik adalah yang bathil seperti kafir Quraisy? Siapa yang berani? Kalau saya tidak berani. . .,” ucap TGB kala itu.

Sekali lagi, TGB memberi penegasan tentang pentingnya merawat persaudaraan di tengah perbedaan.

“Siapapun yang mendengar ucapan saya ini, tokoh-tokoh, guru-guru yang saya muliakan. Tolong berhentilah berkontestasi politik dengan mengutip ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an. Kita tidak sedang berperang. Kita ini satu bangsa. Saling mengisi dalam kebaikan. . .,” ungkapnya.

Contoh lain, ketika pandemi covid-19 mulai merebak, ruang publik terasa amat gaduh. Riuh rendah perdebatan soal covid-19 juga tak sedikit menyerempet aspek kultus beragama.

Dalam kegaduhan tersebut, TGB konsisten menyampaikan sikap dan pandangannya. Sebut saja beberapa kasus yang timbul soal anjuran beribadah di rumah selama pandemi, penolakan jenazah penyintas covid-19, hingga penolakan vaksinasi. TGB memberi pencerahan soal itu.

Tak sedikit dari petuahnya kemudian dijadikan rujukan. Menjadi pembasuh dahaga soal simpang siaurnya informasi soal virus tersebut di tengah umat. Dari perspektif keagamaan.

Belakangan ini, publik dibuat gaduh setidaknya karena dua hal. Pertama, pernyataan Ustad Khalid Basalamah yang “dianggap” mencederai (tradisi) kesenian wayang. Kedua, aturan TOA masjid yang dikeluarkan Menag, Yaqut Cholil Qoumas. Pandangan TGB kembali menjernihkan keadaan.

Ketika bicara terkait yang pertama, titik tolak TGB ialah soal relasi agama dan budaya. TGB berpendapat, terdapat tradisi atau kebiasaan (budaya, red) yang beririsan langsung dengan kehidupan beragama. Untuk memberikan penilaian tentang benar dan salah, kata TGB, harus menggunakan ukuran syariat.

“Jika ada tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlaku di masyarakat, silakan ukur dengan ukuran syariat,” kata Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia itu.

TGB mengingatkan pentingnya menilik persoalan ini secara jeli. Sebab, tak semua produk budaya yang telah tumbuh mengakar itu buruk.

“Kalau wayang itu adalah suatu medium dengan tokoh-tokohnya itu mencerminkan, katakanlah suatu kisah pertarungan antara haq dan batil. Lalu terakhir yang menang adalah yang hak, yang batil itu walaupun dia kuat dan hebat tetapi dia jatuh, kalah. Apa artinya, berarti itu bisa menjadi medium dakwah,” ujar mantan anggota DPR RI itu.

TGB mengingatkan, jika terdapat praktik yang kurang baik dalam budaya di masyarakat, hal itulah yang mestinya diperbaiki. Tak boleh ada klaim yang dapat memantik timbulnya gesekan di masyarakat.

Untuk soal kedua, pandangan TGB tak kalah teduh. Ia menekankan pentingnya menganut prinsip imparsialitas. Artinya rata, seimbang, adil, dan tidak memihak. TGB yang pernah dinobatkan sebagai gubernur termuda di Indonesia ini menyebutkan pengeras suara tak hanya dipakai di masjid. Melainkan pada rumah ibadah agama lain.

Ada momen-momen di mana acara ritual keagamaan itu juga mengeluarkan suara yang cukup besar. Jangan sampai menimbulkan kesan bahwa seakan-akan yang berpotensi mengganggu ketenangan dan ketentraman itu hanya suara yang keluar dari masjid dan musala.

Tak hanya itu, pengeras suara masjid, ujar TGB memliki fungsi sosial budaya. Tidak hanya azan, iqamat, dan mengaji. Di banyak tempat di Indonesia, masyarakat menjadikan masjid sebagai sentral kegiatan.

Tuan Guru Bajang selalu datang membawa jawaban. Di tengah makin sempitnya pengharapan.

TGB tidak hadir dan muncul dengan tangan kosong. Kemampuannya mentransformasikan penerapan nilai keislaman yang moderat dalam konteks kebangsaan tak banyak dimiliki orang.

TGB satu dari sedikit ulama yang sukses menjadi umara. Juga satu dari tak banyak umara yang memiliki kompetensi sebagai ulama.

Pengetahuan keagamaannya luas. Kemampuan kepemimpinannya teruji.

Tuan Guru Bajang: Lima Kunci Mengokohkan Negeri

Dalam sebuah tabligh akbar di Kota Surabaya, TGB menyebutkan setidaknya terdapat lima kunci yang menjadi syarat kokohnya negeri.

Pertama, Ad-din (agama), kata TGB merupakan aspek menyatukan dan mendekatkan satu sama lain. Memiliki perasaan senasib, innamal mukminuna ikhwatun. Agama menjadi pengokoh negara. Tidak boleh ada anggapan agama itu melemahkan negara. Justru agama membuat individu di suatu bangsa menjadi dekat.

“Agama menjadi pondasi yang di atasnya bisa dibangun segala kebaikan,” bebernya.

Yang kedua, an-nasab (keturunan), kekerabatan membuat dekat antar insan. Seseorang bisa lebih dekat dengan saudaranya dibanding orang lain, membela saudaranya lebih dari orang lain.

Ketiga, al-mushaharah (besan). Ada orang menikahkan anaknya dengan seseorang yang jauh, menjadi sebab yang jauh menjadi dekat. Pernikahan menjadi sebab keluarga yang tidak saling mengenal menjadi kokoh dan bersaudara.

Keempat, al-mawaddah (rasa sayang). Rasa ini muncul dengan sendirinya. Rasa sayang ini bisa dirancang agar saling mencintai. Seperti ketika rasul mempersaudarakan antara Kaum Ansar dan Kaum Muhajirin. Awalnya tidak asling mengenal, dan memiliki latar belakang berbeda.

Dengan rasa sayang, sambung TGB, kemudian memunculkan pengorbanan demi satu cita-cita. Muncul rasa saling sepenanggungan, satu visi, satu cita cita, satu perjuangan, satu obsesi, satu perjuangan yang kemudia diikat dalam komitmen.

Kelima ialah al-birru (amal kebajikan). Dijelaskan, ini diberikan kepada bangsa dan umat yang membuat satu sama lain kian kokoh. ImaMawardi mengawali dengan ad-din dan diakhiri dengan al-birru Menjadi benteng mengokohkan negeri, segala macam kemaksiatan maupun hal buruk akan lemah.

Ibarat sedang berlayar di atas perahu, kata TGB tidak boleh ada ruang bagi siapapun yang melubangi perahu agar perahu itu karam. Harus dipastikan, setiap sudut perahu dirawat dengan ad-din, an-nasab, al-mushaharah, al-mawaddah, dan al-birru.

Agama dan negara, dari kacamata TGB bisa menjalin hubungan yang harmonis. Simetris, tidak dikotomis. Cara merawat keberagaman di dalamnya adalah dengan memperbanyak perjumpaan, dialog.

Ketika ikatan kebangsaan mulai kendor, harus diperkuat dengan memperbanyak pertemuan. Menukil pendapat ulama, TGB menyitir bahwa pohon persaudaraan itu pupuknya adalah saling bertemu. Ketika pohon itu kering, segera disiram.

“Kita perkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah,” ajaknya saat mengisi tausyiah di pendopo Bupati Sumenep.

Langkah ini dahulu dilakukan TGB dengan membuat sekolah perjumpaan. Beragam agama dan golongan sering bertemu dan berbincang. Pertemuan yang kemudian mempererat hubungan hubungan di NTB. Perjumpaan diakuinya sebagai salah satu resep mujarab merawat hubungan.

Tuan Guru Bajang selalu berusaha memberi jalan tengah. Dan dia sejatinya adalah jalan tengah itu sendiri.

(*)

Sebagian dari subtansi dan kisah dalam tulisan ini direduksi dari buku karangan Muhammad Syaiful Islam Febriantara Putra, penulis asal Kota Mataram berjudul 1) Dakwah Nusantara Tuan Guru Bajang Islam Wasathiyah; 2) Tuan Guru Bajang dan Covid-19.

Leave a reply