IDUL FITRI, JANGAN LUPA BAHAGIA

Oleh: M. Rusli Nasir

Atmosfir langit Al-Abrar Pancor pagi ini demikian menggema dengan lantunan takbir, tahmid dan tahlil menyambut rangkaian Idul Fitri 1 Syawal 1443 H. bertepatan dengan 2 Mei 2022 M.

Kalimat-kalimat suci itu terucap melalui lisan-lisan hamba Allah yang dimuliakan-Nya dari kalangan zuriat, santri serta jemaah al-Magfurulah Maulana Syekh T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Fansyauri.

Pelaksanaan rangkaian Idul Fitri di Al-Abrar tahun ini terasa semakin istimewa, karena Syekhona TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA bertindak selaku imam dan khatib. Sebuah kebanggan bagi para thullab dan thalibat yang masih tinggal di sana.

Syekhona TGB di awal khutbahnya mengingatkan hadirin untuk terus belajar, menambah dan mengasah ketakwaan kepada Allah dengan jalan yang ditunjukkan atau diteladankan baginda Rasulullah saw.

Selanjutnya, hadirin diingatkan untuk tidak boleh lupa bersyukur kepada Allah. Kita patut bersyukur sebab semua rangkaian ibadah wajib dan sunnah selama ramadan telah usai dilaksanakan. Sembari kita berharap dan berdoa semoga semuanya diterima di sisi Allah.

ربنا تقبل منا صلاتنا وقيامنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وقعودنا وتضرعنا وتعبدنا وتمم تقصيرنا يا أرحم الراحمين .

“Ya Tuhan kami. Terimalah salat, berdiri (tarawih), puasa, rukuk, sujud, duduk, merendah, dan penghambaan kami, serta sempurnakanlah apa yang kurang dari semuanya. Duhai Yang Maha Penyayang.”

Demikian panjatan doa yang mungkin memadai sebagai perwujudan harapan dan doa yang terbesit di hati ini.

Hal terpenting lainnya yang disampaikan Syekhona TGB adalah perihal jangan lupa bahagia (bahasa beliau; _bersukacita).

Saya menangkap pesan beliau untuk kita tidak lupa menjadikan momen Idul Fitri sebagai momentum bahagia, adalah karena beliau menyebut nama lain dari Idul Fitri sebagai يوم الفرح والسرور (hari bahagia penuh kesukacitaan).

Makanya bagi saya, hadirnya momen Fitri ini ialah menjadi alasan kuat kita melupakan sakit hati, dendam, kedengkian, dan beragam masalah atau permasalahan yang sekiranya mengundang duka dan kesedihan di hati. Momen Fitri sama dengan momen kita merawat bahagia. Karena itu, tema tulisan ini “Jangan lupa bahagia.”

Ternyata, yang menyuruh kita bahagia adalah Nabi sendiri. Beliau juga mencontohkan hal demikian. Bahkan, Baginda menegaskan ada dua hak kebahagiaan yang diperoleh baginorang yang puasa, dan Nabi yang mulia juga melarang sahabatnya menghalangi orang bahagia hari ini.

Dalam sebuah hadis yang masyhur disebutkan, bahwa bagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan yang ia peroleh. Pertama, saat ia berbuka puasa setiap hari (momen Idul Fitri). Kedua, saat kita berjumpa dengan Allah di akhirat kelak.

Demikian Rasul dengan nyata menyebut ada dua kebahagiaan yang berhak kita dapatkan dengan hadirnya ramadan.

Sementara dalam riwayat lain dikisahkan, pada satu waktu Abu Bakar ash-Shiddiq ra. pernah berkunjung ke rumah putrinya Aisyah rha. Ketika itu sahabat pertama Rasul ini menemukan putrinya yang jelita itu sedang bersama dua penyanyi di momen hari raya Idul Fitri.

Melihat sesuatu yang “ganjil” bagi Sayyidina Abi Bakar, maka lantas beliau menegur putrinya, “Duhai putriku, tidak layak dan tak pantas melakukan hal seperti ini (bernyanyi) di rumah Rasulullah saw.”

Mendengar larangan demikian, Rasul pun memberitahu sahabat sekaligus mertua, “Wahai Abu Bakar sahabatku, sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.” Demikian sabdanya.

Pesan yang bisa dipetik dari penggalan percakan manusia mulia tersebut, sebut Syekhona TGB adalah bahwa, “Boleh kita bersuka cita dengan hal-hal yang tidak dilarang agama dan tidak berlebih-lebihan. Karena itu, semua kesukacitaan kita pada hari ini insyaallah _bernilai ibadah kepada Allah swt.”

Nah, pertanyaan paling mendasar dari sekian uraian ini ialah, mengapa setelah berpuasa, Nabi membolehkan atau bahkan mensyariatkan kesukacitaan?

Kata para ulama adalah disebabkan kelak saat bertemu dengan Allah, lalu amal ibadah kita “dihisab” (dihitung) kemudian diberikan ganjarannya. Sampai pada satu titik, amal kita pun bisa menjadi “alat tebus” terhadap kezaliman yang kita lakukan kepada orang lain di dunia ini.

Ketika semua amal kita habis menjadi alat tebus, Allah masih menyimpan satu amalan yang menjadi musabab kita masuk surga-Nya. Amalan apa itu? Puasa. Amal ibadah puasa kata Nabi menjadi juru selamat kita. Dengannya, فيدخل الله بصيامه الجنة (Allah memasukkan hamba-Nya dengan amal puasa itu).

Kebenaran uraian ini dipamungkaskan oleh Syekhona TGB dengan hadis qudsi yang masyhur dibacakan saat ramadan.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ .

Maknanya. Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya (kata ulama; bisa sebagai alat tebus terhadap kezalimannya kepada orang lain di dunia) kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.

Akhirnya. Kalau kemarin kita berpuasa dengan iman dan yakin, dilengkapi sarat dan rukunnya, dihiasi dengan adab-adabnya, maka bolehlah hari ini kita bergembira dan bersuka cita. Selain itu, boleh pula kita berdoa serta berharap, semoga puasa ini menjadi jalan kita masuk ke dalam surga-Nya Allah swt. Amiiin!

Wa Allah A’lam!

Masbagik, 2 Mei 2022 M.

Leave a reply