REVITALISASI HULTAH NWDI MENUJUINKLUSIVISME NWDI DI ERA 4.0

Oleh: Dr. H. Muslihun Muslim
(Alumni MA Muallimin NW Pancor 1993 dan Penulis Buku Kiprah NW)

Hultah NWDI ke-86 tahun ini terlihat istimewa karena beberapa hal. Pertama, hultah NWDI ke-86 ini adalah hultah yang dilaksanakan saat Pandemi Covid-19. Pelaksanaan hultah saat ini tentu memiliki makna tersendiri yang sangat dalam karena tahun lalu tidak sempat diadakan karena tingginya tingkat penularan Covid-19.

Esensi Hultah sesungguhnya untuk mengenang sejarah perjuangan NWDI sepanjang berdirinya selama 86 tahun. Waktu selama 86 tahun tentu bukan waktu yang singkat. Selanjutnya, dalam Hultah ini sangat diharapkan sebagai ajang penguatan substansi keagamaan yang selama ini menjadi aliran ormas NW dan NWDI, yakni Islam ahlussunnah wal jamaah ‘ala mazhab al imam as-Syafii.

Esensi lain dari Hultah adalah menyampaikan doa bagi perkembangan NWDI, khususnya doa bagi para perintis dan pejuang NWDI sejak berdirinya 86 tahun lalu hingga di era 4.0 sekarang ini.

Esensi doa dalam hultah NWDI tentu bernilai sangat tinggi mengingat praktek yang selalu ditradisikan oleh Maulanasyekh semasa hayatnya. Apalagi dalam hal ini beliau selalu menyampaikan nash: Ad-du’aau shilah al-mukminiin (Doa adalah senjata/perisai bagi orang-orang mukmin). Doa dalam Hultah ini juga diharapkan secara khusus mendoakan musibah Pandemi Covid-19 agar segera enyah dari dunia ini.

Covid-19 telah merubah banyak hal dalam tatanan beragama dan bermasyarakat, termasuk dalam persoalan ekonomi.
Kedua, Hultah ini dilaksanakan setelah status hukum NW dan NWDI menjadi terang benderang setelah lebih seperlima abad berpisah.

Pada titik ini, semangat sama-sama menjaga, membantu, dan tidak saling mempersekusi adalah menjadi referensi utama dalam ishlah kali ini. Kalaupun masih terdengar narasi ketidakpuasan maka harus dianggap sebagai dinamika sebuah perubahan. Dalam teori perubahan sosial, terdapat beberapa teori seperti teori evolusi, teori fungsional, dan teori konflik. Dalam kasus NW dan NWDI saya lebih setuju memberikan kategori sesuai dengan teori Evolusi, khususnya evolusi Multilinier.

Teori ini menyatakan bahwa perubahan sosial dapat terjadi dalam beberapa cara, tetapi cara tersebut akan mengarah ke arah yang sama, yaitu membentuk masyarakat yang lebih baik.

Ketiga, hultah ini menjadi awal bagi penguatan peran strategis NWDI dalam pembangunan bangsa dalam berbagai aspek kehidupan.

Penguatan peran ini harus dimulai dari revitalisasi terhadap tujuan ber NW dan ber NWDI, yakni Li i’lai kalimatillah WA ‘lzzil Islam wal Muslimin (dalam rangka meninggikan kalimat Allah dan memuliakan agama Islam dan kaum muslimin). Dalam kepak sayap perjalanan NWDI, saat ini sudah berkembang pada 4 sisi, yakni pendidikan, sosial, dakwah, penguatan ekonomi umat.

Apakah politik tidak menjadi garapan NWDI? Hal ini tentu menjadi salah satu target juga tetapi harus selalu ditempatkan pada posisi yang tepat, yakni sebagai alat perjuangan dan bukan sebagai tujuan akhir (ghayah).

Kesalahan fatal jika ada sebagian kader NWDI yang menempatkan politik sebagai tujuan akhir perjuangan. Ketika dalam berpolitik, sebagian kader atau pengutrus misalnya mengalami nasib yang kurang beruntung, maka roda organisasi harus tetap berjalan dengan cara-cara yang lain yang dianggap elegan.

Keempat, peran strategis yang dikedepankan NWDI selama ini adalah Islam inklusif. Inklusifitas NWDI ini sejalan dengan dakwah Nusantara yang telah dilakukan TGB M Zainul Majdi 2 tahun terakhir sebelum gempa bumi melanda NTB.

Narasi inklusifitas dalam beragama tentu menjadi sangat vital mengingat kita hidup di negara yang majemuk dari berbagai sisi: agama, suku, bahasa dst. Dalam intern Islam pun kita harus bisa menjalin kerjasama dengan begitu banyak ormas keagamaan yang ada.

Kehadiran berbagai ormas keagamaan harus dimaknai sebagai entitas yang harus saling menopang dan membantu antara satu dengan lainnya. Bukan malah menunjukkan egoisme sektoral masing-masing dan terkesan hanya untuk “gagah-gagahan”. Jika hal yang terakhir ini lebih mengemuka maka sama artinya dengan kita sedang memproklamirkan diri sebagai kelompok atau entitas yang eksklusif dan kurang berterima dengan ormas lain.

Peta dan pola komunikasi NWDI dengan dunia luar sebagaimana dicontohkan TGB sebagai Ketua PB NWDI sejatinya sudah on the track. Tinggal langkah yang sama harus dilakukan oleh kader-kader yang lain supaya tidak muncul kesan bahwa TGB adalah pemain tunggal. Ikhtiar membina umat harus diperjelas dan dimplementasikan secara bersama-bersama dan bersinergi dengan ormas lain secara proporsional.

Secara umum, revitalisasi Hultah NWDI dapat dilihat dalam dua sisi, yakni secara internal dan secara eksternal. Secara internal, momentum Hultah NWDI harus dimaknai sebagai ajang evaluasi terhadap peran dan fungsi organisasi dalam membina kemajuan madrasah dan pondok pesantren yang bernaung di bawah NWDI.

Sudahkah pondok-pondok kita mengikuti trend kemajuan madrasah dan ponpes lain di sekitar kita? Jangan-jangan yang maju masih didominasi oleh madrasah induk di Pancor, lalu bagaimana dengan madrasah yang tersebar di pelosok desa dan bahkan di luar daerah NTB?

Sudahkan sentuhan organisasi dilakukan, terutama dalam mengisi kekurangan SDM tenaga pengajar. Pada era Maulanasyekh hal ini rutin dilakukan oleh beliau dalam rangka memperluas sayap organisasi.

Dengan caranya, Maulanasyekh telah berhasil mengirim kader-kader NW dan NWDI ke beberapa daerah seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi termasuk di Jakarta.

Akreditasi madrasah-madrasah kita bagaimana?
Demikian pula, apakah sudah dipikirkan pengembangan perguruan tinggi di Mataram dan beberapa kota lain provinsi besar seperti ibukota Jakarta atau barangkali di Kaltim calon ibukota baru negara republik ini.

Lahirnya perguruan tinggi ini dapat menjadi simbol kebangkitan ormas NWDI karena selain dapat membantu pemerintah dalam pengembangan dunia akademik dengan menawarkan kurikulum yang lebih genuine.

Kehadiran perguruan tinggi ini dapat pula menjadi solusi bagi perluasan dunia kerja para kader muda NW dalam dunia akademik.

Di samping itu, dapat pula menjadi salah satu alternatif meningkatkan daya saing organisasi di hadapan ormas lain serta dapat pula dijadikan salah satu amal usaha dalam pengembangan aset dan modal ekonomi bagi pengembangan organisasi.

Masih banyak hal yang perlu menjadi renungan kita pada Hultah NWDI ke-86 ini, termasuk yang belum menjadi realita adalah terbentuknya pusat-pusat ekonomi NWDI seperti rumah sakit Islam, Lembaga Keuangan Umat, dan pusat-pusat bisnis lainnya yang dapat menopang roda organisasi.

Memang hal ini bukan perkara mudah, tetapi jika melihat ormasi lain yang telah mampu, maka mestinya ketika ormas lain bisa mengapa kita tidak bisa? Maka belajar dari pengalaman ormas lain perlu dilakukan, apa saja yang perlu dipersiapkan untuk bisa mengarah kepada tercapainya tujuan tersebut, tentu harus kita kejar dengan cara belajar secara langsung atau dengan cara-cara lain yang memungkinkan pengalaman mereka dapat kita peroleh dengan akselerasi yang tepat.

Dalam sebuah kaidah Ushul Fiqh, “Maa laa yudrikul kul laa yutraku kulluhu” (Apa yang tidak bisa dikerjakan keseluruhannya, maka jangan tinggalkan semuanya). Kerjakanlah apa yang mampu kita kerjakan, meskipun masih tergolong minimalis. Jika memperhatikan trend dan semangat pengurus NWDI saat ini, patut kita berbangga bahwa kesadaran berorganisasi mulai bangkit kembali, meskipun hal ini mendapatkan tantangan yang tidak kecil.

Misalnya mulai berkurangnya semangat yakin, ikhlas, istiqomah, dan sabar sebagaimana jargon perjuangan yang telah lama didengungkan oleh pendiri organisasi ini. Kondisi ini adalah imbas dari perkembangan Iptek yang terlalu mengedepankan materialisme dan helenisme.

Secara eksternal, NWDI sudah dikenal luas seiring dengan popularitas pendirinya dan para penerusnya seperti TGB. TGB hari ini sudah menjadi tokoh nasional.

Kita berharap popularitas TGB akan berkorelasi bagi popularitas NWDI sebagai salah satu ormas keagamaan di level nasional. Kita juga berharap akan muncul kader-kader lain sekelas TGB sehingga akselerasi penyebaran NWDI secara nasional akan lebih cepat sesuai dengan doa kita yang tertuang dalam Hizib NW: Wansyur wahfazh nahdlatul Wathan fil alamin (sebarkanlah dan jagalah Nahdlatul Wathan di seluruh penjuru dunia).

Melanjutkan dan merawat perjuangan Maulanasyaikh dalam membangun NW dan NWDI tentu tidaklah mudah. Selain yakin, ikhlas, dan istiqomah serta kesabaran juga membutuhkan penguatan kompetensi seiring perkembangan teknologi modern saat ini. Dibutuhkan pula peningkatan secara kuantitatif selain secara kualitatif terhadap kader-kader maulanasyaikh ke depan, baik di eksekutif, legislatif, dan di dunia akademik.

Tentu ke depan, NWDI menunggu totalitas perjuangan para kader muda NWDI untuk melakukan penetrasi di berbagai bidang sehingga gerak laju organisasi juga akan terlihat semakin nyata di kancah nasional.

1 Comment

  • Amaq Tami
    September 23, 2021

    Perlu pemikiran dan keberanian untuk membangun Rumah Sakit NWDI dan Universitas Hamzanwadi di Provinsi yang lain

Tinggalkan Komentar