TGB Meng-Indonesia-kan NTB

Oleh: H. Rosiady Sayuti, Ph.D. (Mantan Sekda NTB)

Seharusnya tulisan ini muncul kemarin, 31 Mei 2022. Pas di Hari Lahir Tuan Guru Bajang Dr. M. Zainul Majdi ke 50. Gubernur NTB 2008-2018.

Namun inspirasinya baru muncul hari ini. Setelah membaca begitu banyak tulisan-tulisan orang, teman-teman beliau, bahkan mungkin mereka yang secara pribadi tidak pernah berjumpa dengan beliau.


Menjadi Gubernur dua periode, tentu bukan hal yang biasa-biasa saja. Karena tidak semua orang bisa seperti itu. Apalagi melalui proses pemilihan langsung oleh rakyat, yang tentu tidak mudah juga.

Namun tulisan singkat ini tidak akan mengulas hal terkait dengan kesuksesan beliau memimpin NTB hingga dapat meraih penghargaan negara tertinggi yang hanya sedikit Kepala Daerah yang mendapatkannya, yaitu Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI pada tanggal 13 Agustus 2012.


Yang ingin saya ceriterakan adalah kesan dari dua orang asing yang saya dampingi ketika bersilaturahim dengan TGB. Yang pertama adalah seorang wartawan senior dari Australia. Saya lupa namanya. Tapi intinya, datang menemui TGB dalam rangka wawancara resmi dari media dimana dia bekerja. waktu itu saya diminta mendampingi beliau.

Ketika wawancara, pertanyaan sang wartawan dalam bahasa inggris. Tapi tidak perlu diterjemahkan karena TGB langsung mengerti. Hanya ketika menjawab, TGB menggunakan bahasa Indonesia dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh penterjemah yang dibawa dari Jakarta. Dan menurut saya, jawaban yang diberikan TGB sesuai dengan pertanyaan. Bahkan sangat rinci.


Setelah semua pertanyaan dijawab, kemudian secara spontan sang wartawan kemudian berdiri dan menyampaikan terima kasih atas kesempatan wawancara yang diberikan. Kemudian sang wartawan menambahkan: “I am sure, you will be the next president of Indonesia.” Terhadap pernyataan ini TGB dengan rendah hati mengelak mengiyakan, atau mengaminkan.

Beliau merespons dalam bahasa Inggris: “No sir, I am just president of my organization, called Nahdlatul Wathan,” sambil tertawa ringan bersama sang wartawan.


Kedua, tapi dengan ending yang sama. Duta Besar New Zealand, yang juga saya antarkan. Kalau yang ini bukan wawancara, tapi silaturahmi dan bicang-bincang biasa. Tentang berbagai hal, mulai dari persoalan daerah, nasional, dan kemungkinan kerjasama. Kebetulan waktu itu NTB dikenal dengan program Bumi Sejuta Sapi. Sementara New Zealand salah satu negara yang terkenal dengan peternakannya.


Seusai dari kantor Gubernur, pak Dubes kemudian melanjutkan pertemuan dengan saya sebagai Kepala Bappeda di Kantor Bappeda. Sebelum memulai pembicaraan, saya tanya bagaimana kesan beliau terhadap TGB, beliau secara spontan mengatakan: “I think his capacity is not only for governor but more than that, to be a president of this country…”


Selamat ulang tahun Tuan Guru. Menjadi apapun seorang hamba Allah, sesungguhnya sudah ada dalam garis takdir kita masing-masing. Kita hanya bisa berharap dan menengadahkan tangan untuk berdoa. Yang jelas kami warga NTB sangat bangga memiliki Tuan Guru yang telah mampu mengubah wajah NTB menjadi lebih baik dan lebih dikenal lagi di tanah air.


Dari bincang-bincang dengan TGB lah kemudian saya membuat judul buku yang berisi kumpulan tulisan saya ketika menjadi Kepala Bappeda NTB. Judulnya adalah “Ikhtiar Meng-Indonesia-kan NTB”. Inspirasi judul itu dari beliau. Dan alhamdulillah sekarang NTB sudah meng-Indonesia, bahkan men-dunia, alias dikenal diseluruh dunia …

Subhanallah wal hamdulillah..


Secara pribadi saya sangat berterima kasih kepada beliau dan bersyukur kehadirat Allah SWT, atas kepercayaan dan amanah yang beliau berikan kepada saya dalam mendampingi beliau 2008-2018… untuk mengubah wajah NTB…


Untuk mengakhiri tulisan ini, ada dua ungkapan beliau yang tak pernah saya lupa: Yang pertama, ketika memimpin rapat perdana para kepala SKPD, di bulan Oktober 2008.

Beliau mengatakan: “tugas utama pemerintah adalah membangun SDM dan menurunkan angka kemiskinan. Tidak ada gunanya apapun yang kita laksanakan, apabila kita tidak bisa menurunkan angka kemiskinan di daerah ini.”

Alhamdulillah NTB berhasil menjadi Juara 1 MDGs se Indonesia tahun 2015 dimana masalah kemiskinan salah satu indikator utamanya. Pada tahun 2008, angka kemiskinan NTB 23.81% dan pada tahun 2018 turun menjadi 14,63%.


Ungkapan yang kedua, yang saya dengar langsung dari beliau adalah ketika merespons begitu banyak penghargaan yang diterima selama beliau menjabat.

Beliau mengatakan: “….penghargaan itu kita perlukan juga, bukan untuk gagah-gagahan, tapi agar rakyat tahu bahwa kita ini bekerja…”


Sekali lagi Selamat Ulang Tahun Tuan Guru, semoga tulisan ini dapat menjadi kado sederhana di ulang tahun Tuan Guru yang ke 50.

Wallahul muwafiq wal haadi ilaa syabilirrosyad.

Tinggalkan Komentar