Catatan Dakwah Nusantara Sulselbar (bagian 1)

Beda Tanggal, Beda Pula “Keselamatannya”

Oleh: Febrian Putra

Langit masih gelap, rombongan harus sudah beranjak ke Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Beberapa jam sebelumnya, baru tiba dari Kabupaten Pasangkayu di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Pukul 06.30 Wita pesawat yang ditumpangi oleh Ketua OIAA Indonesia akan menuju Kota Palopo. Kami transit dulu di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Tiba di Kota Palopo, Wali Kota Palopo H M Judas Amir mengundang Syeikh TGB HM Zainul Majdi untuk makan siang. Ramah sambutannya. Ada kue enak sekali, namanya Barongki. Terbuat dari pisang.

Selanjutnya Syeikh TGB mengisi kuliah umum di IAIN Palopo. Di saat ramah tamah, saya membaca sejumlah berita. Daerah yang tiga hari sebelumnya kami kunjungi terkena gempa. Cukup besar, 5.8 SR. Video kepanikan banyak beredar.

“Bagaimana keadaan Syeikh. Mohon infonya segera,” bunyi salah satu pesan instan.

Satu belum terjawab, muncul lagi pertanyaan. Apakah rombongan Dakwah Nusantara tidak apa-apa?

Cukup banyak pesan-pesan yang datang bersamaan. Melihat video kepanikan dan bangunan roboh, wajar kalau semua bertanya dan menanyakan Syeikh TGB.


Mundur ke belakang, jadwal Dakwah Nusantara Sulselbar di awal diputuskan mulai 3-8 Juni. Rutenya dimulai dari Sulsel di Kota Paolopo kemudian bersambung menuju Sulbar, titik terakhirnya di Kabupaten Mamuju.

Semua berubah, ketika dari ujung ponsel Syeikh mengatakan, akan mulai ke Pulau Sulawesi pada 5 Juni. Dan rutenya dimulai dari Sulbar kemudian Sulsel.

“Feb, tanggal 5 jalan. Sulbar dulu baru Sulsel,” kata Syeik saat itu.

Ketika saya sampaikan ke panitia, beragam tanggapan disampaikan. Sebagian ada yang protes. Bahkan, ada yang ngomel dengan beragam alasan.


Pagi itu, di Luwu Timur dalam sarapan pagi, trio pimpinan aliansi sasak lombok Indonesia (ASLI) berbincang soal gempa Mamuju. Saya nyeletuk, kalau jadwal awal tak berubah. Maka posisi kami sedang di Mamuju.

“Sudah saja saya diomel. Tapi, barangkali sekarang yang protes-protes menyesal,” canda saya.

Bapak Lalu Mas’ud, Bapak Arief, dan Bapak Rizal langsung “ngeh” dengan omongan saya.

“Benar-benar. Kalau jadwal awal tidak berubah posisi di Mamuju, ” kata Bapak Arief.

“Merinding saya,” akunya.

Dan satu lagi, saat di Taripa, Bupati Luwu Timur Budiman di panggung menyampaikan, bila acara berjalan sesuai jadwal yaitu 4 Juni, maka ia tak dapat berjumpa Syeikh TGB karena sedang umrah.

Mungkin masih banyak kesyukuran lain yang sebenarnya juga terjadi dalam perjalanan panjang ini namun luput dari ingatan saya.

Yah, beda tanggal, beda pula “keselamatannya”. Alhamdulillah, bijahi thaha al mustafa.

Foto : TGB HM Zainul Majdi mengajak ratusan mahasiswa dan dosen IAIN Palopo mendoakan korban Gempa Mamuju.

Tinggalkan Komentar