Profile Maulana Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Bapak Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid lahir di kampung Bermi Pancor pada tanggal 19 April 1908. Nama kecilnya ialah Muhammad Syaggaf dan setelah menunaikan ibadah haji nama beliau diganti menjadi Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

Pada tahun 1934, sepulang dari mekkah beliau mendirikan sebuah pesantren yang namanya kental dengan perjuangan bernama Al-Mujahidin (para pejuang). Perhatian beliau kepada situasi Lombok saat itu yang masih berjuang melawan penjajah mendorong beliau  beliau mendirikan sebuah madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dua tahun setelah mendirikan pesantren.  Penggunaan nama pesantren dan madrasah yang beliau dirikan, sangat kuat mengisyaratkan semangat jihaduntuk ummat islam dan kebangkitan bangsa, negeri atau tanah air (Nahdlatul Wathan)

Tujuh tahun kemudian, tepatnya tangagl 21 April 1943, beliau mengambil langkah yang penting yang disebut dengan education for all dengan mendirikan madrasah perempuan pertama. Sekolah/madrasah ini dinamakan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiya. Ini merupakan semangat pendidikan emansipatoris agar kaum perempuan, sebagaimana kaum laki-laki, juga bangkit memajukan ummat, negeri dan tanah air seperti nama organisasi kemasyarakat yang beliau dirikan yaitu Kebangkitan Tanah Air (Nahdlatul Wathan)

Pada zaman penjajahan, al-Mukarram bapak Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga menjadikan madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, tempat menggembleng patriot-patriot bangsa yang siap bertempur melawan dan mengusir penjajah. Bahkan secara khusus al-Mukarram bapak Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid bersama guru-guru Madrasah NWDI-NBDI membentuk suatu gerakan yang diberi nama “Gerakan al-Mujahidin”. Gerakan al-Mujahidin ini bergabung dengan gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok untuk bersama-sama membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Bangsa Indonesia. Dan pada tanggal 7 Juli 1946, TGH. Muhammad Faizal Abdul Majid adik kandung Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memimpin penyerbuan tanksi militer NICA di Selong. Namun, dalam penyerbuan ini gugurlah TGH. Muhammad Faisal Abdul Madjid bersama dua orang santri NWDI sebagai Syuhada’ sekaligus sebagai pencipta dan penghias Taman Makam Pahlawan Rinjani SelongLombok Timur.

Pada tahun 1953, beliau mendirikan sebuah organisasi islam terbesar Nahdlatul Wathan (Kebangkitan tanah air). Melalui organisasi ini beliau memberikan pengaruh yang amat besar terutama perkembangan dunia pendidikan di Lombok. Nama Nahdlatul Wathan pada perkembangannya menjadi tarekat hizib nahdlatul wathan yang memeberikan andil dalam pengimplementasian tradisian keagamaan yang berbasis Ahlussunnah Wal Jamaah yang mengajarkan islam yang moderat.

Tarikh akhir 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Hari Selasa, 21 Oktober 1997 M / 18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah. Sang ulama karismatis, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kediaman beliau di Bermi  Pancor, Lombok Timur. Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Beliau adalah ulama pewaris para nabi. Beliau sangat berjasa dalam mengubah masyarakat NTB dari keyakinan semula yang mayoritas animisme, dan dinamisme menuju masyarakat NTB yang islami. Buah perjuangan beliau jugalah yang menjadikan Pulau Lombok sehingga dijuluki Pulau Seribu Masjid. Karena di seluruh kampung di Lombok pasti kita temukan masjid untuk tempat ibadah dan acara sosial, baik yang berukuran kecil maupun besar.

Pada akhirnya Bapak Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid dikenal sebagai seorang Nasionalis pejuang kemerdekaan, da’I, mubalig, guru/pendidik, ulama/intelektual, sastrawan, politisi, dan guru sufi tarikat hizib Nahdlatul Wathandan pembaharu sosial keagamaan dan pendidikan serta Penerima BINTANG MAHA PUTRA

Pada tanggal 6 November 2017 berdasarkan surat Keputusan Presiden RI No. 115/TK/Tahun 2017 bapak Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid dianugrahi gelar Pahlawan Nasional sebagai bentuk penghargaan pemerintah atas jasa beliau oleh presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi Widodo.

id_IDIndonesian